Assalamu'alaikum Wr Wb.
Jumpa lagi dengan saya, kali ini saya akan memposting sebuah artikel yang merupakan tugas pertama dari dosen IMF kami, beliau menugaskan kami untuk membuat artikel mengenai "kemiskinan di Aceh". Disini saya akan menceritakan sedikit mengenai sebuah dilema yang sedang dihadapi oleh rakyat Aceh pada hari ini. Tak perlu berpanjang lebar lagi, mari kita sama-sama langsung ke pembahasannya.
****************************************************************
Siapa yang tidak tahu aceh? Sebuah provinsi yang dulunya di kenal dengan "Nanggroe Aceh Darussalam" dan juga sebuah daerah yang mendapat gelar "Serambi Mekkah". Selain itu aceh juga dikenal oleh dunia dengan konfliknya yang berkepanjangan, serta dengan terjadinya musibah tsunami yang meluluhlantakkan sebagian wilayah aceh pada 2004 silam. Apabila kita menilik masa lalu aceh, maka kita akan mendapati sebuah masa yang dimana para penduduknya hidup dalam kemakmuran dan kedamaian. Tapi itu dulu sekali, zaman sudah berubah, sekarang ini kita hidup di abad ke-21 yang mana pola kehidupan masyarakat pun sudah banyak berubah.
Baiklah, karena artikel ini bercerita mengenai kemiskinan yang terjadi di aceh, baiknya kita lanjutkan pembahasan kita.
Apabila kita melihat dari sumber daya alam yang di kandung di perut bumi aceh kita, secara logika aceh ini tidak mungkin bisa miskin. Aceh juga menjadi salah satu pengekspor sumber daya alam terbesar di indonesia. Tapi apabila kita melihat kenyataan pada saat ini, masih banyak masyarakat aceh yang hidup dalam kemiskinan. Inilah dilema yang sedang di hadapi oleh rakyat aceh saat ini. Mereka bagaikan ayam yang kelaparan di lumbung beras. Tentu itu merupakan sebuah ironi, yang perlu kita cari pemecahannya. Untuk bisa memecahkan suatu masalah, maka kita terlebih dahulu harus melihat penyebab yang menimbulkan masalah tersebut, dalam hal ini, kita harus melihat penyebab yang menimbulkan kemiskinan di aceh.
A. Penyebab Kemiskinan di Aceh
Secara garis besar, menurut Abdul Rahman Lubis, timbulnya kemiskinan di aceh dibagi kedalam 3 faktor besar, yaitu faktor struktural, kultural, dan faktor bencana alam.
a. Struktural
- Porsi dana dan bantuan ke program infrastruktur dan aparatur pemerintah terlalu tinggi, tidak proporsional ke bidang produktif misalnya pertanian dan perikanan yang merupakan mata pencaharian penduduk terbanyak (80%).
- Perencanaan Program dan Kegiatan tidak tepat sasaran.
- terbatasnya dukungan sistem kelembagaan sosial, ekonomi dan politik untuk penanggulangan kemiskinan.
- Proyek mikro dikelola oleh masyarakatn "under funded" atau memberi bantuan saja tanpa didukung dengan pembinaan.
- Nilai hasil produksi rendah disebabkan industri pengolahan tidak tersedia.
- Industri besar kurang melibatkan masyarakat tertinggal.
b. Kultural
- Tingkat pendidikan dan kesehatan yang rendah
- Sikap mental dan perilaku masyarakat ketergantungan
- Dominasi laki laki dalam mengambil keputusan alokasi dana
- Siklus ekonomi desa (subistence) belum akses ke pasar
c. Dampak Bencana
- Konflik
- Gempa bumi dan tsunami
- Traumatik
- Peningkatan Inflasi (29%) dari proyek darurat
Menurut data yang dihimpun oleh World bank, bahwa tingkat kemiskinan di
Aceh sebelum tsunami, sebesar 28.4 persen dari jumlah penduduk pada
tahun 2004, jauh lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional
Indonesia, yaitu sebesar 16,7 persen. Kemiskinan di Aceh meningkat pasca
bencana tsunami mencapai 32,6 persen. Tingkat kemiskinan turun di bawah
angka sebelum tsunami menjadi 26,5 persen pada tahun 2006, disebabkan
adanya kegiatan rekonstruksi dan berakhirnya konflik dan pada tahun 2007
kemiskinan di Aceh 26,65 persen. Peningkatan angka kemiskinan yang
kecil setelah tsunami disertai dengan heterogenitas mendasar antar
berbagai daerah di Aceh. Wilayah yang terkena dampak tsunami memang
mengalami peningkatan angka kemiskinan, namun pada tahun 2006 angka ini
kembali ke tingkat sebelum tsunami, atau bahkan lebih kecil , sedangkan
untuk tahun 2007 masih terjadi fenomena naik turunnya angka kemiskinan.
Sedangkan baru-baru ini Pemerintah Provinsi Aceh memprediksi angka kemiskinan di Aceh pada 2011
ini turun hingga 969.353 jiwa atau 19,57 persen dari angka dicapai tahun
sebelumnya, menyusul peningkatan pembangunan dilakukan.
B. Menanggulangi Kemiskinan di aceh
Setelah kita mengetahui akar masalah yang menyebabkan kemiskinan di aceh, kita dapat mencari solusi untuk menanggulanginya, dan saya akan mencoba untuk memberikan beberapa contohnya, yaitu antara lain:
- Kemiskinan menurut saya terjadi karena kurang handalanya kualitas Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh aceh. Kualitas SDM yang rendah biasanya disebabkan oleh buruknya pendidikan yang diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus di ambil oleh pemerintah adalah memperbaiki kualitas pendidikan untuk rakyat aceh. Hal ini dapat dicapai dengan mengalokasikan anggaran belanja daerah yang besar, memperbaiki infrastruktur pendidikan, memberikan subsidi untuk biaya pendidikan, serta memperbaiki kualitas tenaga pengajar.
- Upaya pembangunan harus berorientasi kepada pembangunan manusia
- Pemerintah harus lebih memperhatikan Usaha Kecil Menengah yang ada di aceh, karena merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan daerah.
- Pemerintah harus membentuk sebuah lembaga keuangan mikro yang efektif, yang dapat membantu masyarakat menaikkan tingkat kesejahteraannya. Seperti yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dengan Grameen Bank nya.
- Pengembangan skema-skema pengentasan kemiskinan harus merujuk pada prinsip Dari Masyarakat, Untuk Masyarakat, dan Oleh Masyarakat.
Masalah kemiskinan ini bukan hanya masalah pemerintah, tapi merupakan masalah kita bersama. kita harus menanggulangi nya bersama-sama. Semoga kedepannya kemiskinan di aceh dapat di kurangi, sehinggga kesejahteraan masyarakat akan meningkat.
****************************************************************
Inilah artikel pertama saya di blog ini, selain untuk memenuhi tugas yang di berikan oleh dosen IMF kami, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi penulis sendiri, dan bagi siapapun yang juga membaca artikel ini.
Artikel ini sungguh jauh dari sempurna, maka dari itu, penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari para pembaca sekalian, yang bisa anda tulis pada kolom Comment dibawah.
Terimakasih.
Sampai jumpa pada postingan berikutnya...