WELCOME ...

Selamat datang di blog ini, semoga Anda bisa menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi Anda disini..

THINK !!!

Berpikirlah, maka Anda akan menemukan hakikat hidup ini..

DECIDE !!!

Karena hidup ini adalah pilihan..

DO !!!

Apapun yang Anda lakukan, lakukanlah hal yang benar, dan benar dalam melakukannya..

IMPOSSIBLE IS NOTHING !!!

Tidak ada yang tidak mungkin apabila kita yakin dan bersungguh-sungguh..

Sunday, June 10, 2012

Konsep Keuntungan dalam Islam

Konsep Keuntungan dalam Islam

Pembahasan mengenai akad dan produk bank syariah tidak terlepas dari konsep keuntungan dalam Islam. Dalam Islam, sesuai dengan penuturan Ibnu Arabi, bahwa transaksi ekonomi tanpa unsur 'Iwad sama dengan riba. 'Iwad dapat dipahami sebagai equivalent countervalue yang berupa risiko (Ghurmi), kerja dan usaha (Kasb), dan tanggung jawab (Daman). Semua transaksi perniagaan untuk mendapatkan keuntungan harus memenuhi kaidah ini, seperti di ilustrasikan pada diagram dibawah.

Al-Bay'
Al-Ijarah
Salam
Istishna             >>>  Keuntungan   =   'Iwad  (risiko, kerja & usaha, tanggungan)
Mudharabah
Musyarakah
dll

Untuk mengetahui suatu transaksi atau akad dalam mengambil keuntungan apakah sesuai dengan ketentuan syariah atau tidak, apakah mengandung unsur riba atau tidak, dapat digunakan kaidah seperti digambarkan pada gambar 2. Pertama, letakkan akad yang akan dievaluasi pada kotak kiri bawah. Kedua, evaluasi akad tersebut terhadap tiga unsur, yaitu risiko, kerja dan usaha, dan tanggung jawab pada kotak kanan bawah.

Apabila ketiga unsur 'Iwad ada, maka akad tersebut sesuai dengan ketentuan syariah, dan keuntungan yang dihasilkan transaksi tersebut bukan tergolong riba. Apabila ketiga unsur 'Iwad tidak ada, maka akad tersebut tidak sesuai dengan ketentuan syariah, dan keuntungan yang dihasilkan dari transaksi tersebut tergolong riba.

Task 3 : Review : Pelajaran Yang tidak Bisa Diajarkan


Pelajaran Yang tidak Bisa Diajarkan

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Postingan ini merupakan review terhadap sebuah artikel yang yang ada di website smeindonesia.com dimana artikel tersebut menceritakan mengenai seorang pemuda yang pergi menuntut ilmu kepada seorang Ulama besar. Sebelum membaca postingan ini, lebih baiknya Anda membaca artikel tersebut terlebih dahulu.


Memang benar, untuk mencapai kesuksesan tidak lah gampang. Perlu kerja keras yang konsisten , ilmu, dan diiringi dengan do'a yang tulus. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh seorang pemuda pada artikel diatas, setelah bertahun-tahun menuntut ilmu, yang bahkan ilmu yang sudah di pelajari semuanya oleh pemuda itu dirasakan masih kurang cukup oleh orang tua-nya, yang pada akhirnya pemuda tersebut disuruh menuntut ilmu lagi yang mana ilmu tersebut tidak pernah bisa diajarkan oleh siapapun, ilmu yang muncul karena ketekunan berusaha.

Dalam pengembaraannya mengembala kambing milik gurunya, akhirnya pemuda tersebut mengerti akan maksud orang tuanya mengenai Pelajaran yang Tidak bisa Diajarkan tersebut. Dia berusaha memahami alam, dimana ada rumput, dimana ada air, dimana dia bisa berteduh dari panas, dengan apa dia menghangatkan tubuh di waktu dingin dlsb. Dia juga belajar berinteraksi dengan makhluk lain tanpa harus berbicara. Dia menjadi paham apa kemauan para kambing ini, dan para kambing-pun nampaknya menjadi paham apa arahan pemuda yang kini telah menjadi penggembala tersebut.

Setelah dua tahun berlalu, kambing-kambing yang semula berjumlah 300 ekor inipun telah mencapai seribu. Waktunya kini menggiring balik 1000 kambing menempuh perjalanan 150 km menuju kota Bagdad.  Hanya saja perjalanan balik ini menjadi jauh lebih ringan karena adanya komunikasi tanpa bicara dengan para kambing tersebut, dan si pemuda juga telah belajar ilmu yang tidak bisa diajarkan oleh siapapun.

Satu lagi,, Dia juga telah belajar menjadi seorang Entrepreuner....!!

Berdasarkan kisah diatas, banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran untuk menjadi seorang entrepreuner atau pengusaha, diantaranya ialah:
  1. Giat menuntut ilmu. Dengan bekal ilmu yang cukup, kita akan lebih mudah dalam berusaha, karena kita mempunyai dasar yang kuat dalam melakukan usaha kita. Ilmu bisa didapatkan dari mana saja, baik seorang guru, orang lain, dan juga dari pengalaman.
  2. Kerja keras yang konsisten. Usaha itu tidak boleh setengah-setengah, apalagi dilakukan secara tidak serius dan setengah hati. Seorang petani tidak akan mendapatkan hasil panen yang bagus apabila ia tidak merawat dengan baik tanamannya.
  3. Kemampuan berkomunikasi dengan baik. Berkomunikasi tidak hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan diri sendiri sehingga kita akan mengetahui apa kekuatan dan kelemahan kita. Bahkan kita juga harus bisa "berkomunikasi" dengan alam, lingkungan, dan "membaca" kejadian-kejadian yang ada disekitar kita.
  4. Kemampuan manajemen yang baik. Calon entrepreneur harus bisa mengumpulkan seluruh resources yang berserakan, kemudian mengarahkan resources tersebut untuk menggapai tujuan yang dia hendak capai. Mengumpulkan dan mengarahkan resources ini bukan jalan yang mudah, karena meskipun mereka manusia – mereka punya keinginan sendiri-sendiri.
  5. Do'a. Inilah kunci keberkahan kita dalam melakukan suatu usaha. Hal-hal sederahana yang diringi dengan do'a akan lebih bermakna dan hal-hal besar dan sulit yang diiringi dengan do'a akan menjadi lebih mudah. 
Mungkin itulah sebagian pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah diatas. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semuanya..

Wassalamu'alaikum Wb. Wb.

Task 2 : Sistem Bagi Hasil VS Sistem Bunga


Sistem Bagi Hasil VS Sistem Bunga

Sebagai alternatif sistem bunga dalam ekonomi konvensional, ekonomi Islam menawarkan sistem bagi hasil (profit and loss sharing) ketika pemilik modal (surplus spending unit) bekerja sama dengan pengusaha (deficit spending unit) untuk melakukan kegiatan usaha. Apabila kegiatan usaha menghasilkan, keuntungan dibagi dua, dan apabila kegiatan usaha menderita kerugian, kerugian ditanggung bersama. Sistem bagi hasil menjamin adanya keadilan dan tidak ada pihak yang tereksploitasi (didzalimi). Sistem bagi hasil dapat berbentuk musyarakah atau mudharabah dengan berbagai variasinya.

Sistem Riba >> Penciptaan & Konsentrasi >> Menyusutkan sektor Riil >> Inflasi >> Menghambat Laju Ekonomi

Dalam perekonomian konvensional, sistem riba, fiat money, commodity money, fractional reserve system dalam perbankan, dan pemnolehan spekulasi menyebabkan penciptaan uang (kartal dan giral) dan tersedotnya uang di sektor moneter untuk mencari keuntungan tanpa risiko. Akibatnya, uang atau investasi yang seharusnya tersalur ke sektor riil untuk tujuan produktif sebagian besar lari ke sektor moneter dan menghambat pertumbuhan bahkan menyusutkan sektor riil. Penciptaan uang tanpa adanya nilai tambah akan menimbulkan inflasi.


Spekulasi dalam perekonomian Islam akan mendorong iklim investasi yang akan tersalur dengan lancar ke sektor riil untuk tujuan yang sepenuhnya produktif. Hal ini akan menjamin terdistribusinya kekayaan dan pendapatan serta menumbuhkan sektor riil. Dengan meningkatnya produktivitas dan kesempatan bekerja dan berusaha pada akhirnya akan tercapai kesejahteraan masyarakat.

Investasi Bagi Hasil >> Distribusi Kekayaan dan Pendapatan >> Menumbuhkan Sektor Riil >> Produktivitas & Kesempatan >> Mendorong Laju Ekonomi

Task 1 : The Spread of Islam


The Spread of Islam

After The Prophet's death in AD 632, the leadership of the Muslim communinity passed to his great friend and companion, Abu Bakr, the first of the four "rightly-guided" Caliphs (successor of the prophet). At the very moment in time, Islam was threatened with disintegration, but within a year, Abu Bakr was strong enough to attack the Persian Empire to the north-east and the Byzantine Empire in the north-west. In his History of the Arabs, Professor P.K Hitti observes:

"If someone in the first third of the seventh Christian century had the audacity to prophesy that within a decade some unheralded, unforeseen power from the hitherto barbarians and little known land of Arabia was to make its appearance, hurl itself against the only two powers of the ages, fall heir to the one - The Sassanids, ond strip the other, the Byzantine, of its fairest province, he would undoubtedly be declared a lunatic. Yet that was what happened."

During Abu Bakr's caliphate, and that of his succesor, Omar, many further victories were gained over Byzantium and the Byzantine Empire was considerably reduce in extent by Muslim armies during the seventh and eighth centuries. It was under the next Caliph, Othman, that islam began to spread southwards through Nubia into sub-Saharan Africa, as well as across the Straits of Gibraltar into the southern part of Spain (Al-Andalus). The Mediteranian island of Crete, Cyprus, and Rhodes were also occupied during this period.

Over the next five hundred years, Islam continued to expand through sub-Saharan Africa and Asia Minor, though the Moors in Spain were on the retreat from the twelfth century. The Final defeat of Byzantium came in 1453 when the Greek Orthodox city of Constantinople (known today as Istanbul) fell to Ottoman Turks led by Mehmed II. At this point in time, the Islamic world stretched in a broad swathe across North Africa, through Asia Minor, to Afganistan and Armenia, with outposts scattered along the maritime trade routes of South-east Asia - Sumatra, Java and the Spice Islands of Tidore and Ternate. The Moors still had a foothold in southern Spain, but this would only be for another forty years; they were expelled in 1492.


Arab Domination Under The Umayyads

The first three caliphs of Islam were chosen in consultation with the elders and leaders of the Islamic community, and a pattern was established for selecting the caliph from the Karaysh tribe of Mecca. The fourth caliph, Ali, who was the son-in-law of Muhammad, was devoted to Islam and convinced that leadership of the Islamic community should remain in the family of the Prophet. The followers of Ali were later called Shii or Shiites (after Shiat-u-Ali, or "party of Ali"), and believed that the first three caliphs had been usurpers to legitimate power. Ali and his followers were opposed first by Muslims under the leadership of Muhammad's widow Aisha, daughter of Abu Bakr, and later by the forces of Muawiyah, the governor of Syria and a relative of the third caliph. In 661 Muawiyah proclaimed himself caliph, made Damascus his
capital, and founded the Umayyad Dynasty, which lasted until 750. Thus the caliphate became in fact, although never in law, a hereditary office, not, as previously, a position filled by election.

Umayyad military campaigns of conquest for the most part were highly successful. The Umayyad navy held Cyprus, Rhodes, and number of Aegean islands, which served as bases for annual seaborne attacks on Constantinople from 674 to 678. With the aid of Greek fire Constantinople was successfully defended, and the Arab advance was checked for the first time. Westward across North Africa, however, the Umayyad armies had much greater success. The Berbers, a warlike nomadic people inhabiting the land between the Mediterranean and the Sahara, resisted stubbornly but eventually converted to Islam. The next logical expansion for Islam was across the Strait of Gibraltar into the weak kingdom of the Visigoths in Spain. The governor of Muslim North Africa sent his general, Tarik, and an army across the Strait into Spain in 711. Seven years later the kingdom of the Visigoths completely crumbled. The Muslims advanced across the Pyrenees and gained a strong foothold in southwest France, where they carried out a major raid to explore the possibility of a further northward advance. However, they were defeated by Charles Martel near Tours in 732, in a battle which, together with their defeat by the Byzantine emperor Leo III in 718, proved decisive in halting their northward expansion into Europe. Meanwhile the Muslims had been expanding eastward into Central Asia, and by the eighth century they could claim lands as far as Turkestan and the Indus valley.

The mainstay of Umayyad dynastic power was the ruling class consisting of an Arab military aristocracy, who formed a privileged class greatly outnumbered by non-Arabic converts to Islam - Egyptians, Syrians, Persians, Berbers, and others. Many of these converted peoples possessed cultures much more advanced than that of the Arabs, and the economic and cultural life of the Arab empire came to be controlled by these non-Arab Muslims (mawali). Because they were not Arab by birth, they were treated as second-class citizens. High government positions were closed to them. They paid higher taxes than Arabs, and as soldiers they received less pay and loot than the Arabs. Resentment grew among the non-Arabic Muslims who objected to their lesser status as a violation of the Islamic laws of equality. Eventually the resentment of the mawali helped bring about the downfall of the Umayyads.

The tolerance of Islam

The tolerance of Islam is another factor in the spread of Islam. Toynbee praises this tolerance towards the Peoples of the Book after comparing it with the attitude of the Christians towards Muslims and Jews in their lands. (A Historian's Approach to Religion, p.246) T. Link attributes the spread of Islam to the credibility of its principles together with its tolerance, persuasion and other kinds of attractions. (A History of Religion) Makarios, Orthodox Patriorch of Antioch in the seventeenth century, compared the harsh treatment received by the Russians of the Orthodox Church at the hands of the Roman Catholic Poles with the tolerant attitude towards Orthodox christians shown by the Ottoman Government and prayed for the Sultans. (T. Link, A History of Religion)

This is not the only example of preference by the followers of the religions for Muslim rule over that of their own co-religionists. The Orthodox Christians of Byzantium openly expressed their preference for the Ottoman turban in Istanbul to the hats of the Catholic cardinals. Elisee Reclus, the French traveller of the nineteenth century, wrote that the Muslim Turks allowed all the followers of different religions to perform their religious duties and rituals, and that the Christian subjects of the Ottoman Sultan were more free to live their own lives than the Christians who lived in the lands under the rule of any rival Christian sect. (Nouvelle Geographie Universelle, Vol. IX) Popescu Ciocanel pays tribute to the Muslim Turks by stating that it was luck for the Romanian people that they lived under the government of the Turks rather than the domination of the Russians and Austrians. Otherwise, he points out, "no trace of the Romanian nation would have remained." (La Crise de L'Orient}

Monday, June 4, 2012

Summary chapter 2 part 2


PELOPOR KEUANGAN MIKRO KOMERSIAL DALAM SKALA BESAR 
 
Perbankan mikro di Bank Rakyat Indonesia BRI, sebuah bank umum milik pemerintah yg berusia satu abad, secara tradisional mendapat penugasan dari pemerintah untuk menyediakan jasa perbankan untuk daerah pedesaan di Indonesia, dengan tekanan khusus pada kredit pertanian. Bank juga melayani hampir seluruh segmen pasar dalam industri perbankan, termasuk bisnis ukuran mikro, kecil, menengah, dan besar, serta nasabah perseorangan dan korporasi. Artikel ini tidak mencakup pengembangan BRI secara keseluruhan, namun hanya sistem BRI unit desa - divisi perbankan mikro yang telah membuat bank ini dikenal secara internasional bagi penyediaan jasa keuangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karena unit desa, yang menyediakan layanan kredit dan tabungan kecil baik didaerah perkotaan maupun daerah pedesaan, maka BRI melayani lebih banyak nasabah dibandingkan dengan bank lain manapun di Indonesia.

Pengembangan sistem unit desa (perbankan mikro)

BRI Pada awal tahun 1970an BRI mengembangkan sistem perbankan mikro untuk menyediakan subsidi kredit dari pemerintah kepada petani beras melalui BIMAS, komponen kredit dari upaya besar-besaran Indonesia untuk menjangkau kemandirian beras secara nasional. Sekitar 3.600 kantor unit desa didirikan di seluruh Indonesia di tingkat kecamatan. 

 Pada bulan Juni 1983 diumumkan langkah pertama dari serangkaian reformasi keuangan: bank pemerintah sekarang diperbolehkan menetapkan suku bunga mereka sendiri atas sebagian besar kredit dan simpanan. Sebagai tujuan lain, deregulasi ini menyediakan suatu lingkungan yg memungkinkan transformasi sistem perbankan lokal BRI. Setelah reformasi ini, pemerintah memutuskan bahwa subsidi unit desa akan dikonversikan menjadi sistem perbankan komersial secara berkelanjutan di tingkat lokal, dan bahwa suatu program kredit serba guna dengan suku bunga komersial akan dilaksanakan melalui sistem unit desa. Setelah suatu masa awal, program kredit akan dibiayai oleh tabungan yg dihimpun secara lokal. 

Pada awal tahun 1984 BRI memulai program kredit serba guna yg baru, yang disebut Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES), yg ditawarkan melalui jaringan semua kantor unit desa. Kredir perseorangan diberikan kepada debitur pedesaan yang layak kredit, seluruhnya untuk tujuan produktif. Suku bunga nominal bulanan yg ditetapkan dengan suku bunga flat 1,5 persen atas saldo kredit semula; ini sama dengan sekitar 32 persen suku bunga efektif tahunan untuk kredit satu tahun dengan 12 angsuran bulanan, kalau semua pembayaran dilakukan tepat pada waktunya. 

Pada akhir tahun 1996, sistem unit desa menghimpun simpanan $3 milyar dalam 16,1 juta rekening simpanan. Suatu laporan tahun 1996 oleh Departemen Evaluasi Operasional (Operations Evaluation Department) World Bank menyebutkan alasan keberhasilan BRI unit desa sebagai berikut: 

"Program berhasil baik karena bank meminjamkan dengan harga pasar, menggunakan pendapatan untuk membiayai cara kerja mereka, mempertahankan biaya oprasional rendah dan merencanakan instrumen tabungan yg tepat untuk menarik minat penabung. Dengan menghimpun tabungan pedesaan, sistem unit desa tidak hanya disediakan dengan sumber dana yg kuat, namun juga menyimpan tabungan tabungan keuangan di daerah pedesaan, dengan demikian membantu tumbuhnya pembangunan daerah. Alasan lain keberhasilan meliputi: kesederhanaan pola kredit, yang memungkinkan bank menekan biaya; manajemen efektif di tingkat unit, didukung oleh pengawasan dan pemantauan yang ketat; serta pelatihan karyawan dan insentif kinerja yang tepat."
                                                   - World Bank News, 4 April 1996, hal.6

Badan Kredit Desa 

Disamping sistem perbankan mikro unit desanya sendiri, BRI melakukan pengawasan dan dalam beberapa kasus menyediakan kredit komersial untuk memanfaatkan organisasi kredit milik desa dari Jawa dan Madura (Badan Kredit Desa atau BKD). Pada akhir tahun 1998 ada 4.806 BKD yg beroperasi, yang melayani sekitar 800.000 nasabah. BKD dan BRI unit desa bersama-sama menyediakan sistem duang-tingkat, dengan BRI unit berkedudukan di tingkat kecamatan, melayani desa-desa sekitar, sedangkan BKD menjangkau lebih dalam ke desa-desa. 

Masing-masing BKD menyediakan kredit komersial kecil dalam desanya. Sebagian besar BKD buka kantor satu pagi dalam satu minggu; mereka dimodali tabungan, laba ditahan, dan kredit komersial dari BRI. Pinjaman dari BKD kepada para debitur desa adalah untuk jangka pendek, seringkali untuk tiga bulan; pembayaran biasanya diangsur tiap minggu. Tabungan wajib berkisar antara 8-10 persen dibawah kredit. Suku bunga efektif kredit, yang ditetapkan oleh berbagai pemerintah daerah, lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga yang dibebankan unit desa. 

Jangkauan dan Profitabilitas 

Suatu gabungan cakupan luas dan institusional yang mandiri telah membuat Indonesia sebagai pusat keuangan mikro yang berkelanjutan. Bahkan ditengah-tengah krisis keuangan negara paling buruk dalam 30 tahun, sistem unit desa BRI dan BKD terus kuat dan menguntungkan, seperti juga Bank Dagang Bali (suatu bank swasta). Semuanya menggunakan pendekatan sistem keuangan terhadap keuangan mikro, dan semuanya tetap menguntungkan sepanjang krisis. Semua lembaga ini sering menerima kunjungan dari ratusan delegasi yang mewakili pemerintah, bank sentral, bank umum, LSM penyedia kredit mikro, serta donor internasional dan yayasan dari seluruh dunia. Pengunjung mewakili banyak lembaga yg berada pada berbagai tahap pembelajaran mengenai pendekatan institusional komersial terhadap keuangan mikro dan penyesuaian pendekatan ini terhadap keadaan di negara mereka sendiri. Mereka telah mulai menyesuaikan pelajaran banyak lembaga yg sukses, untuk menemukan strategi yg saling melengkapi, untuk mengembangkan model, dan untuk tukar-menukar informasi lintas batas. Indonesia telah memainkan peran yg penting dalam proses ini. 

PARADIGMA LAMA: PENYEDIAAN SUBSIDI KREDIT 

Paradigma lama -yang berasal dari teori persediaan mendorong pembiayaan- dan program subsidi kredit luas yang berkembang dari teori ini, muncul sebagai tanggapan kondisi setelah Perang Dunia II. Pemerintah banyak negara berkembang baru meletakkan prioritas tinggi pada pembangunan ekonomi, dan terutama peningkatan pemeliharaan tanaman pangan. Donor asing mendapatkan mandat bagi investasi substansial di bidang pertanian negara berkembang. Dalam konteks ini, ahli teori persediaan-mendorong pembiayaan menegaskan bahwa sebagian besar petani akan membutuhkan modal lebih banyak dibandingkan dengan yang dapat mereka tabung dan bahwa mereka tidak dapat membayar kredit sepenuhnya yang perlu untuk masukan yang dibutuhkan untuk menanam varietas padi dan gandum hasil tinggi yg baru sebagai pertanda revolusi hijau tahun 1960an dan 1970an. Sebagai hasilnya program subsidi kredit pemerintah dan donor berkembang pesat di negara berkembang di seluruh dunia. 

PARADIGMA BARU: KEUANGAN MIKRO KOMERSIAL YANG BERKELANJUTAN 

Paradigma baru menekankan pada gagasan bahwa, dengan adanya kondisi memungkinkan dari makro ekonomi, politik, hukum pengaturan, dan demografi, maka lembaga keuangan dapat dikembangkan untuk menyediakan intermediasi keuangan bagi masyarakat miskin yang aktif secara ekonomi dan dapat menyediakan pelayanan di tingkat lokal secara menguntungkan, dapat dipertahankan, tanpa subsidi, dan dengan ruang lingkung yg luas.

Wednesday, May 2, 2012

Summary : Microfinance Products


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Setelah sekian lama saya tidak meng-update blog ini, akhirnya hari ini bertambah satu lagi postingan di arsip blog ini. yaa walaupun posting kali ini adalah untuk memenuhi tugas IMF kami. Padahal semenjak saya membuat blog ini, saya ingin meng-update nya setiap hari, tapi entah kenapa gak pernah kesampaian ~~".
kayaknya langsung aja ke isinya ya,, Disimak ya,,,

                                                     ******************************

Session 4 : Microfinance Products

        Products delivered by MFIs are many and include loans, savings, insurance and money transfer. Non financial products such as training or consulting are also often delivered by microfinance institutions. This session analyses the main features of these products. Loans, and increasingly savings, constitute the main products actually offered by MFIs but as the industry matures additional products have been introduced by many institutions.

A. LOANS

        The success of many MFIs can be identified in their ability to combine successful practices from the informal sector (moneylenders) into formal institutions. These include flexibility, fast access to funds, clear and easy conditions. The extraordinary success of microcredit comes from its ability to replicate some of these features from moneylenders into more “formal” financial institutions lowering the interest rates applied. The specific features that microfinance institutions should implement to deliver valuable services for their clients are listed below. These characteristics are met quite well by moneylenders giving them a competitive advantage. But MFIs that have been able to include these features into their credit services successfully replicated this competitive advantage.

1. Fast access
Rapid loan approval and fast disbursement is crucial for clients and it is often the main reason why many people deal with moneylenders even at very high interest rates.

2. Clear, easy and flexible conditions
It is important to provide the credit service at convenient conditions for the clients. Transaction costs, which include transportation costs (to pay the instalments or get the money) or time away of work, throughout the life of the loan must be kept low. Loans should also not be strictly linked to a specific purpose. MFIs should monitor the income streams of their clients but with a certain level of tolerance as restricting the possible use of funds will not allow microentrepreneurs to have the necessary flexibility in the use of the money received and thus interfere with the microbusiness development.

3. Permanent services
Credit services must be provided on an ongoing basis, not only for a limited period of time. The lack of this requirement is the main shortfall of many projects that despite their effectiveness do not have the goal of delivering financial services on an ongoing and sustainable basis.

4. Alternative collaterals and collateral substitutes
Poor people often lack traditional collateral. To overcome this obstacle many MFIs use other kinds of collaterals known as collateral substitutes and alternative collaterals. Group guarantee is an example of the former, while personal property such as equipment or jewellery are an example of alternative collateral that are not accepted as collateral by the traditional banking sector.

B. SAVINGS

        MFIs typically offer two types of savings accounts: voluntary and forced. Voluntary savings replicate the savings services provided by traditional commercial banks while forced savings serve as collateral for the loan. These accounts do not necessarily provide a return on deposit and are kept by the institution until the balance of the loan has been paid off.
         Liquid accounts are flexible saving products often with no or small minimum balance but they usually do not provide or pay very little interests. Time deposit accounts, on the other hand, usually offer higher interest rate but clients have to leave their money in the account for a specified period of time.



C. MICROINSURANCE

        Low-income entrepreneurs, just like anyone else, are vulnerable to risks, such as illness, injury, theft, death, accidents and flood. This is why financial products to mitigate the effects of these risks are valuable for them. Insurance is a financial service that some MFIs are starting to add to their portfolio to respond to this need of protection. Providing savings and insurance services besides credit make the MFI a full service financial institution delivering microfinance, i.e. a full set of financial services to low income people.
        To directly provide insurance MFIs need a special license and the requirements to be granted such a license are usually very strict: governments control insurance companies for the same reasons why they control the financial soundness of deposit taking institutions, the protection of the clients and the stability of the system. As the majority of the MFI do not satisfy these conditions, there are alternatives to the direct provision of insurance and the most common is a partnership with an existing insurance company. Insurance companies may not offer their products directly to poor people because they lack experience in this market segment: the MFI can fill this gap and work as an intermediary between the insurance company and its clients.
        Insurance products to the target group of microfinance institutions must be designed to fit their specific needs and protect their specific risks: they may include health insurance, livestock insurance and crop insurance. At present few MFIs are offering insurance services but as the industry grows they start to be included among the set of products offered.

D. MONEY TRANSFER

        Money transfer service is another critical financial service: the business of remittances, i.e. the money that emigrants send home to relatives, is growing strongly and is often managed by informal arrangements with high charges and high risks. Depending on the local regulation and costs this service can be delivered directly or in partnership with money transfer companies. MFIs owns the competitive advantage of the relationship with their clients and such service can also be linked to other products or can be taken into account when calculating the repayment capacity of each client. There is the possibility to link remittances with credit products when remittances are not used for consumption but for production purposes, combining the different sources of funds.
       A study by Manuel Orozco showed that in 2002 the average fee to send between US$150 and US$300 from the United States to Central America was on average 7.35 percent the value of the amount sent, to which must be added average additional costs of about 2.3 percent. The total average percentage paid on a transaction of US$150 was about 18 percent. These high charges are primarily due to a low competition in the market and this is why MFIs started to provide, together with the other traditional financial products, this valuable service for their clients.

Wednesday, March 7, 2012

Susah Mendapatkan Modal Untuk Usaha?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Postingan kali ini dibuat untuk memenuhi  tugas dari bapak Iskandarsyah Madjid untuk mengomentari tulisan beliau mengenai "Susah Mendapatkan Modal?", mengenai salah satu hadits nabi tentang modal untuk berusaha yang ada di website smeindonesia.com.
Sebelum membaca artikel ini, lebih baik anda membaca terlebih dahulu tulisan beliau dengan meng-klik DI SINI.

Sebagaimana yang kita ketahui, salah satu alasan mengapa orang susah untuk memulai suatu usaha yang baru adalah karena terkendala masalah modal. Banyak orang ingin membuka suatu usaha yang sudah di pikirkan matang-matang, baik dari segi ide bisnis, lokasi, produk, target pelanggan, dan lainnya sebagainya, tapi pada ujung-ujungnya terhenti karena mandek pada masalah "gak punya modal". Walaupun sekarang ini sudah relatif mudah untuk mendapatkan modal, misalnya dengan meminjam dari bank, tapi bank hanya memberi pinjaman kepada orang-orang yang sudah mempunyai usaha yang mapan, mampu mengembalikan pinjaman, atau mempunyai jaminan yang memadai (seperti rumah, mesin, dll). Nah bagaimana dengan rakyat kecil yang tidak mempunyai apa-apa?

Sebenarnya tidak ada orang yang tidak mempunyai apa-apa. Bahkan orang yang paling miskin pun masih memiliki apa yang kita sebut sebagai "kemauan untuk berubah". Mereka masih memiliki kesehatan dan kekuatan untuk bekerja demi memperbaiki kehidupannya. Sebenarnya, kalau mereka mau berusaha lebih keras (tidak malas) dalam bekerja, mereka bisa saja tidak menjadi miskin. Tapi banyak orang lebih memilih untuk mengemis daripada berusaha sendiri, karena kemalasannya tersebut.

Sebagaimana yang telah kita baca dalam hadits yang terdapat dalam tulisan bapak Iskandar (yg telah saya link-kan diatas), mengenai seorang miskin yang datang kepada Rasulullah untuk meminta bantuan, banyak hal yang dapat kita pelajari dari hadits tersebut. Misalnya, Rasulullah dengan bijak memberi saran kepada orang tersebut untuk membawa apa saja yang ada di rumahnya, lalu membawanya ke hadapan beliau. Beliau saw. lalu bertanya kepada orang-orang siapa yang mau membeli barang si lelaki tersebut, lalu uang dari hasil penjualan barang tersebut beliau menyuruh si miskin tadi untuk membeli sebuah kapak untuk mencari kayu bakar. Disini beliau saw. dengan cermat membantu orang tersebut dengan tidak memberinya ikan, tapi memberikan sebuah pancingan untuk mendapatkan ikan. Hal ini tidak mendidik seseorang untuk menjadi pribadi yang malas.

Selain itu, pelajaran lain yang dapat kita ambil adalah, sebenarnya untuk memulai sebuah usaha, kita dapat menggunakan barang-barang yang kita miliki sebagai modal awal untuk memulai usaha kita tersebut. Apabila kita memperhatikan dengan cermat, sebenarnya di rumah kita sendiri terdapat banyak barang yang jarang kita gunakan dan tidak terpakai lagi, nah kita bisa menjual barang tersebut yang uang hasil penjualannya kita gunakan sebagai modal awal. Seberapa minim pun modal yang kita miliki, apabila kita kreatif, kita bisa membuatnya cukup untuk memulai usaha kita.

Bapak Iskandarsyah Madjid mencontohkan hal ini melalui semacam simulasi/permainan, yang beliau wajibkan kepada semua mahasiswanya, bahwa dengan modal yang kecil (yaitu 10rb rupiah, atau bisa dibilang 1rb rupiah), kita bisa memulai usaha sendiri asal kita kreatif. Beliau mewajibkan kami untuk menghasilkan minimal 50rb dalam waktu 1 minggu. Mengenai hal ini, insyaallah akan saya bahas pada postingan berikutnya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Mungkin cukup ini saja tulisan saya kali ini, apabila ada kritik atau saran yang membangun akan saya tampung melalui kotak komentar dibawah.

Wassalam.

Saturday, February 25, 2012

Cerita Motivasi : Air Untuk Insinyur

Postingan kali ini, saya ingin berbagi sedikit cerita yang mungkin bisa memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Apa pun yang orang katakan mengenai kita kita, apabila kita menyikapinya dengan sikap positif, dan kita terus berusaha sekuat tenaga untuk menggapai cita2, maka kita pasti berhasil. Seperti kisah seorang pemuda di bawah ini, di mulai dari ejekan orang lain terhadapnya, ia malah mengubah ejekan tersebut menjadi kekuatan yang memotivasinya untuk menjadi lebih baik.
 
Ini sebuah kisah nyata inspiratif, memiliki cara berpikir positif atas segala hal sehingga menghasilkan "buah" yang manis di kemudian hari.

Oke, langsung saja di simak....

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an ....
 
Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur". Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?

Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "SIKAP POSITIF" . Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”-nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu"

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini."

Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampai di sini?

Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan kamu apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.


Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.
Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi hal yang positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Semoga setelah membaca kisah ini, pembaca sekalian menjadi lebih termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tak peduli apapun kata orang, jadi lah diri sendiri. Be Yourself.

Sumber : Klik Disini

Monday, February 20, 2012

Ekonomi : Study of Choice.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Pada postingan kali ini, saya ingin bercerita sedikit mengenai ilmu ekonomi. Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kata "ekonomi" tsb. Apalagi yg kuliah di fakultas ekonomi, jelas donk. Kata tersebut sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika kita sedang membaca koran, mendengarkannya di TV, bahkan bapak2 yg sering duduk di warung kopi pun sering memperbincangkan kata tsb, misalny mengeluhkan ekonomi indonesia yg gak maju2. Oh ya, sebelumnya saya ingin bertanya kepada pembaca semua, kalau saya boleh tau, apa sih yg terlintas di benak pembaca sekalian saat mendengar kata "ekonomi"?. Mungkin ad sebagian yg langsung menghubungkan "ekonomi" itu dengan urusan2x yg berkaitan dengan duit/uang/fulus/peng. Ada yg kepikiran mengenai transaksi jual-beli di pasar, karena itu merupakan kegiatan ekonomi. Ada yg beranggapan bahwa yg mempelajari ekonomi itu ujung2ny kerja di bank. Malah ad jg yg teringat dengan dosen ekonomi nya yg killer saat mendengar kata "ekonomi" dikumandangkan dan merinding sendirian. Atau bahkan ada juga yg gini nih reaksinya saat denger kata "ekonomi", "Binatang apaan tuh?, kagak pernah denger gw!" (alah itu org idup di planet mana ya? Ok, forget it!). OHH.. wait..! Ternyata ada yg nyeletuk kalau ekonomi itu adalah suatu ilmu sosial yg mempelajari perilaku (behavior) manusia dalam memilih/mengelola berbagai sumber daya yg terbatas, sedangkan nafsu/keinginan manusia itu tidak terbatas. Jadi intinya, kayak mana caranya, itu sumber daya yg sedikit harus bisa memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yg seabrek! (wih, serem ya. . ).
100 deh buat anda !! (*plok plok tepuk tangan, oh gk segitunya jg kali ya, XD).

Hmm, mbak wikipedia ikutan ngejawab juga nih, menurut beliau, ekonomi itu berasal dari kata yunani "oikos" yg artinya "keluarga, rumah tangga" dan "nomos" yg artinya "peraturan, aturan, hukum". Karena mereka berdua di takdirkan untuk bersama, jadilah mereka itu oikos-nomos atawa economic alias "aturan rumah tangga/ manajemen rumah tangga". Tak lama kemudian, mereka pun (si oikos dan nomos) membina rumah tangga bersama dan hidup bahagia selamanya. (*gubrak. . . What the. . . ).

Oke, saatnya kita serius,, wkwkwkwk . . . (loh kok malah ketawa, kajol nih..). Ehem ehem. Coba deh kalian liat lagi judul artikel ini, "Ekonomi : Study of Choice", ada yg penasaran gak kenapa saya bilang ilmu ekonomi itu ilmu yg mempelajari mengenai pilihan?. "Ah gak penasaran lagi donk, tadi kan udah di bilang sama yg dapet nilai 100, sumber daya terbatas sedangkan keinginan manusia gak terbatas, otomatis dia haru milih, hal apa yg paling penting buat dia dan yg paling dia butuhkan, coz kan gak mungkin juga semua sumber daya yang ada buat dia semua, and semua yg dia pengen terkabul semuanya, aku juga mau kalo gitu!". MANTAP !! 100 juga buat anda!. "(kiss-bye kiss-bye pake 2 tangan ke arah penonton)".

Begini ya, pada kesempatan kali ini, saya hanya akan menjelaskan ilmu ekonomi pada tataran yg umum saja, karena apabila kita perhatikan lebih seksama, ekonomi itu terbagi-bagi lagi ke cabang2x yg lain, misalny mikroekonomi, makroekonomi, descriptive ekonomi, ekonomi terapan, positive economic, normative economic, dan lain sebagainya yg tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Disini saya hanya ingin membahas ekonomi dari segi "study of choice"-nya saja.

Lanjut. . .

Ada yg tau gak, apa itu pilihan?. Pastinya donk. Kalian sadar gak, bahwa kalian sebenarnya "memilih" di setiap detik di kehidupan kalian. Misalnya ya ni, malam ini kalian "milih" mau tidur jam berapa, terus kalian "milih" sebelum tidur mau ngelamun dulu pa ngga. Trus besoknya pas kalian bangun, "milih" mau lanjut tidur bentar lagi atau langsung bangun. Bis tu "milih" mau mandi pa ngga, terus "milih" mau pake baju yg mana. Bis tu kalian "memilih" untuk pergi ke supermarket misalnya, "milih" mau lewat jalan yg mana. Sampe di supermarket, kita akan dihadapkan pada begitu banyak "pilihan" barang yg akan kita beli. Semuanya itu mungkin tidak kita sadari, karena terlihat sepele. Tapi percaya deh, pilihan-pilihan itu tuh yg akan membawa kita ke nasib yg mana, nasib yg jelek atau yg baik. Secara sadar atau gak sadar, kita sebenarnya "memilih" puluhan, atau ratusan "pilihan" setiap harinya.
Tapi dalam hidup ini kita juga dihadapkan pada pilihan yg gak boleh di anggap remeh atau sepele. Misalnya setelah lulus SMA mau kuliah di jurusan apa, siapa yg kita pilih menjadi pacar kita (cuit-cuit) atau teman hidup kita, setelah kuliah mau ngapain, dan banyak hal lainnya. Dan terkadang juga, kita sering di hadapkan pada pilihan yg bagaikan "Buah Simalakama". Kalian tentu tahu donk maksudnya. Nah, hal-hal yang seperti itu harus kita pilih dengan bijak.
Oh ya, saya ada kata-kata bagus nih. . .

" we life, we choose "
" we choose, we sacrifice "
" we sacrifice, we'll get the consequence"

Nah, konsekuensi yg kita dapat dari memilih dan mengorbankan sesuatu itu bisa sesuai dengan yg kita harapkan, atau malah sebaliknya. Kualitas konsekuensi itu berbanding lurus dengan kualitas pilihan kita dan seberapa besar pengorbanan yg kita lakukan. Kalian percaya gak, bahwa apa yg kita pilih hari ini, akan menentukan akan dapat apa kita di kemudian hari?. Misalnya, apabila kalian "memilih" untuk tidak belajar hari ini, mungkin gak kalian mendapatkan apa yg kalian cita-citakan di masa depan?

Pada akhirnya, sukses yang di raih setiap orang ditentukan oleh keberhasilan orang itu dalam memilih.
kalau dalam bahasa matematika nya (cielah) :

                                                    Success = f(choice)

Success adalah fungsi dari keberhasilan memilih. Pilihan yang terbaik akan menentukan hasil yang di capai.

Jadi. . . Apa hubungannya sama ilmu ekonomi bro. . ?!

Oh jelas ad donk, kita kembali ke si "yang di supermarket" tadi. Ceritanya dia tuh ke supermarket cuma bawa duit 30 ribu (dalam hal ini sumber daya yg dia punya adalah duit 30rb ntu). Niat dari rumah mau beli makanan. Tapi, begitu sampe di supermarket, rasa-rasanya dia mau ngeborong semua apa yg ada (ingat manusia napsu nya gede). Tapi dia tahu, dengan duit yg cuma 30 rebu, mustahil bisa ngeborong satu supermarket. Maka dia harus "memilih" apa yg akan dia beli. Karena ia sudah belajar ilmu ekonomi di kampus, maka mulailah ia ber analisis ria. Pertama-tama dimulai dari memilih dan memilah keinginan2x tersebut menjadi kebutuhan yg menurutnya penting dan harus di penuhi terlebih dahulu, dari situ akan muncul "Daftar Prioritas". Kemudian dari daftar prioritas tersebutlah dia akan "mengkombinasikan" barang yang akan dia beli, sedemikian sehingga (wih, canggih ui bahasanya) ia hanya perlu "mengorbankan" uang 30 ribu DAN mendapat kepuasan yg maksimum. Jadi intinya, perut kenyang, barang yg ditaksir pun dapat.

Nah itu tuh kerjaannya orang ekonomi, "cermat dalam memilih" atau "pandai dalam mengalokasikan sumber daya yg ada". Apalagi buat mahasiswa kayak kita-kita ini, jgn sampe duit yg kita keluarin gak tau kemana n gak dapet apa-apa. Istilahnya "hemat, beib", wkwkwk, eits, hemat itu beda sama pelit lho. . .
Oh ya satu hal lagi, dalam memilih sesuatu, kita gak boleh egois, hrus kita liat juga kepentingan orang lain, jangan jadi kayak koruptor2 tu deh, yg gak bisa ngendaliin napsu ny, n gak peduli sama sekali sama nasib rakyat.

Kayaknya cukup ini aja postingan kali ini, coz karena mosting postingan ini lewat hp jadi gak bisa nulis panjang-panjang (tapi ini prasaan dah panjang lah,).
Lagian juga dah kriting nih jempol buat ngetik.

wassalam.

Wednesday, February 15, 2012

Aceh : Dilema Kemiskinan

Assalamu'alaikum Wr Wb.


Jumpa lagi dengan saya, kali ini saya akan memposting sebuah artikel yang merupakan tugas pertama dari dosen IMF kami, beliau menugaskan kami untuk membuat artikel mengenai "kemiskinan di Aceh". Disini saya akan menceritakan sedikit mengenai sebuah dilema yang sedang dihadapi oleh rakyat Aceh pada hari ini. Tak perlu berpanjang lebar lagi, mari kita sama-sama langsung ke pembahasannya.

                           ****************************************************************

Siapa yang tidak tahu aceh? Sebuah provinsi yang dulunya di kenal dengan "Nanggroe Aceh Darussalam" dan juga sebuah daerah yang mendapat gelar "Serambi Mekkah". Selain itu aceh juga dikenal oleh dunia dengan konfliknya yang berkepanjangan, serta dengan terjadinya musibah tsunami yang meluluhlantakkan sebagian wilayah aceh pada 2004 silam. Apabila kita menilik masa lalu aceh, maka kita akan mendapati sebuah masa yang dimana para penduduknya hidup dalam kemakmuran dan kedamaian. Tapi itu dulu sekali, zaman sudah berubah, sekarang ini kita hidup di abad ke-21 yang mana pola kehidupan masyarakat pun sudah banyak berubah.

Baiklah, karena artikel ini bercerita mengenai kemiskinan yang terjadi di aceh, baiknya kita lanjutkan pembahasan kita.

Apabila kita melihat dari sumber daya alam yang di kandung di perut bumi aceh kita, secara logika aceh ini tidak mungkin bisa miskin. Aceh juga menjadi salah satu pengekspor sumber daya alam terbesar di indonesia. Tapi apabila kita melihat kenyataan pada saat ini, masih banyak masyarakat aceh yang hidup dalam kemiskinan. Inilah dilema yang sedang di hadapi oleh rakyat aceh saat ini. Mereka bagaikan ayam yang kelaparan di lumbung beras. Tentu itu merupakan sebuah ironi, yang perlu kita cari pemecahannya. Untuk bisa memecahkan suatu masalah, maka kita terlebih dahulu harus melihat penyebab yang menimbulkan masalah tersebut, dalam hal ini, kita harus melihat penyebab yang menimbulkan kemiskinan di aceh.

A. Penyebab Kemiskinan di Aceh

Secara garis besar, menurut Abdul Rahman Lubis, timbulnya kemiskinan di aceh dibagi kedalam 3 faktor besar, yaitu faktor struktural, kultural, dan faktor bencana alam.
a. Struktural
    -  Porsi dana dan bantuan ke program infrastruktur dan aparatur pemerintah terlalu tinggi, tidak proporsional ke bidang produktif misalnya pertanian dan perikanan yang merupakan mata pencaharian penduduk terbanyak (80%).
    - Perencanaan Program dan Kegiatan tidak tepat sasaran.
    - terbatasnya dukungan sistem kelembagaan sosial, ekonomi dan politik untuk penanggulangan kemiskinan.
    - Proyek mikro dikelola oleh masyarakatn "under funded" atau memberi bantuan saja tanpa didukung dengan pembinaan.
    - Nilai hasil produksi rendah disebabkan industri pengolahan tidak tersedia.
    - Industri besar kurang melibatkan masyarakat tertinggal.

b. Kultural
    - Tingkat pendidikan dan kesehatan yang rendah
    - Sikap mental dan perilaku masyarakat ketergantungan
    - Dominasi laki laki dalam mengambil keputusan alokasi dana
    - Siklus ekonomi desa (subistence) belum akses ke pasar

c. Dampak Bencana
    - Konflik
    - Gempa bumi dan tsunami
    - Traumatik
    - Peningkatan Inflasi (29%) dari proyek darurat
 
Menurut data yang dihimpun oleh World bank, bahwa tingkat kemiskinan di Aceh sebelum tsunami, sebesar 28.4 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2004, jauh lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional Indonesia, yaitu sebesar 16,7 persen. Kemiskinan di Aceh meningkat pasca bencana tsunami mencapai 32,6 persen. Tingkat kemiskinan turun di bawah angka sebelum tsunami menjadi 26,5 persen pada tahun 2006, disebabkan adanya kegiatan rekonstruksi dan berakhirnya konflik dan pada tahun 2007 kemiskinan di Aceh 26,65 persen. Peningkatan angka kemiskinan yang kecil setelah tsunami disertai dengan heterogenitas mendasar antar berbagai daerah di Aceh. Wilayah yang terkena dampak tsunami memang mengalami peningkatan angka kemiskinan, namun pada tahun 2006 angka ini kembali ke tingkat sebelum tsunami, atau bahkan lebih kecil , sedangkan untuk tahun 2007 masih terjadi fenomena naik turunnya angka kemiskinan.
Sedangkan baru-baru ini Pemerintah Provinsi Aceh memprediksi angka kemiskinan di Aceh pada 2011 ini turun hingga 969.353 jiwa atau 19,57 persen dari angka dicapai tahun sebelumnya, menyusul peningkatan pembangunan dilakukan.

 B. Menanggulangi Kemiskinan di aceh

Setelah kita mengetahui akar masalah yang menyebabkan kemiskinan di aceh, kita dapat mencari solusi untuk menanggulanginya, dan saya akan mencoba untuk memberikan beberapa contohnya, yaitu antara lain:
- Kemiskinan menurut saya terjadi karena kurang handalanya kualitas Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh aceh. Kualitas SDM yang rendah biasanya disebabkan oleh buruknya pendidikan yang diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus di ambil oleh pemerintah adalah memperbaiki kualitas pendidikan untuk rakyat aceh. Hal ini dapat dicapai dengan mengalokasikan anggaran belanja daerah yang besar, memperbaiki infrastruktur pendidikan, memberikan subsidi untuk biaya pendidikan, serta memperbaiki kualitas tenaga pengajar.
- Upaya pembangunan harus berorientasi kepada pembangunan manusia
- Pemerintah harus lebih memperhatikan Usaha Kecil Menengah yang ada di aceh, karena merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan daerah.
- Pemerintah harus membentuk sebuah lembaga keuangan mikro yang efektif, yang dapat membantu masyarakat menaikkan tingkat kesejahteraannya. Seperti yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dengan Grameen Bank nya.
- Pengembangan skema-skema pengentasan kemiskinan harus merujuk pada prinsip Dari Masyarakat, Untuk Masyarakat, dan Oleh Masyarakat.

Masalah kemiskinan ini bukan hanya masalah pemerintah, tapi merupakan masalah kita bersama. kita harus menanggulangi nya bersama-sama. Semoga kedepannya kemiskinan di aceh dapat di kurangi, sehinggga kesejahteraan masyarakat akan meningkat.

                           ****************************************************************

Inilah artikel pertama saya di blog ini, selain untuk memenuhi tugas yang di berikan oleh dosen IMF kami, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi penulis sendiri, dan bagi siapapun yang juga membaca artikel ini.
Artikel ini sungguh jauh dari sempurna, maka dari itu, penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari para pembaca sekalian, yang bisa anda tulis pada kolom Comment dibawah.
Terimakasih.
Sampai jumpa pada postingan berikutnya...

Tuesday, February 14, 2012

hahaha,,, inilah posting pertamaku......

hallo semuanya,,


Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji serta syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmad, hidayah, dan nikmat-Nya lah saya akhirnya bisa menyelesaikan pembuatan Blog ini,, (alah emanknya mau khutbah apa,, oke, karena dah terlanjur, baiknya kita lanjutkan saja XD). Tak lupa juga, shalawat serta salam kita sanjung sajikan kepada Baginda Rasullullah SAW, karena berkat kegigihan beliau menyebarkan Agama Islam lah, kita dapat menikmati kehidupan yang penuh dengan kebaikan ini, dengan segala nilai-nilai luhur yang telah Beliau ajarkan dan contohkan.

Adapun maksud saya membuat blog ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Introduction of Micro Finance yang diasuh oleh bapak DR. Iskandarsyah Madjid, SE, MM. yang mana blog ini akan berisi tugas-tugas yang beliau berikan. Selain itu blog ini juga akan berisi catatan kuliah saya selama saya menjadi mahasiswa fakultas ekonomi, hehehe,, dan juga tentunya akan saya posting juga mengenai semua hal yang berhubungan dengan Ekonomi serta serba-serbi mengenai pengetahuan yang saya anggap penting.

Sekian saja mukaddimah untuk kali ini (semoga anda tidak pening membacanya karena postingan ini mirip salah satu bab dalam "Kumpulan Khutbah Jum'at", halah), semoga blog ini bisa bermanfaat khususnya bagi saya sendiri, dan pada umumnya untuk pembaca dari manapun anda berasal... Wassalam.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More