Monday, June 4, 2012

Summary chapter 2 part 2


PELOPOR KEUANGAN MIKRO KOMERSIAL DALAM SKALA BESAR 
 
Perbankan mikro di Bank Rakyat Indonesia BRI, sebuah bank umum milik pemerintah yg berusia satu abad, secara tradisional mendapat penugasan dari pemerintah untuk menyediakan jasa perbankan untuk daerah pedesaan di Indonesia, dengan tekanan khusus pada kredit pertanian. Bank juga melayani hampir seluruh segmen pasar dalam industri perbankan, termasuk bisnis ukuran mikro, kecil, menengah, dan besar, serta nasabah perseorangan dan korporasi. Artikel ini tidak mencakup pengembangan BRI secara keseluruhan, namun hanya sistem BRI unit desa - divisi perbankan mikro yang telah membuat bank ini dikenal secara internasional bagi penyediaan jasa keuangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karena unit desa, yang menyediakan layanan kredit dan tabungan kecil baik didaerah perkotaan maupun daerah pedesaan, maka BRI melayani lebih banyak nasabah dibandingkan dengan bank lain manapun di Indonesia.

Pengembangan sistem unit desa (perbankan mikro)

BRI Pada awal tahun 1970an BRI mengembangkan sistem perbankan mikro untuk menyediakan subsidi kredit dari pemerintah kepada petani beras melalui BIMAS, komponen kredit dari upaya besar-besaran Indonesia untuk menjangkau kemandirian beras secara nasional. Sekitar 3.600 kantor unit desa didirikan di seluruh Indonesia di tingkat kecamatan. 

 Pada bulan Juni 1983 diumumkan langkah pertama dari serangkaian reformasi keuangan: bank pemerintah sekarang diperbolehkan menetapkan suku bunga mereka sendiri atas sebagian besar kredit dan simpanan. Sebagai tujuan lain, deregulasi ini menyediakan suatu lingkungan yg memungkinkan transformasi sistem perbankan lokal BRI. Setelah reformasi ini, pemerintah memutuskan bahwa subsidi unit desa akan dikonversikan menjadi sistem perbankan komersial secara berkelanjutan di tingkat lokal, dan bahwa suatu program kredit serba guna dengan suku bunga komersial akan dilaksanakan melalui sistem unit desa. Setelah suatu masa awal, program kredit akan dibiayai oleh tabungan yg dihimpun secara lokal. 

Pada awal tahun 1984 BRI memulai program kredit serba guna yg baru, yang disebut Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES), yg ditawarkan melalui jaringan semua kantor unit desa. Kredir perseorangan diberikan kepada debitur pedesaan yang layak kredit, seluruhnya untuk tujuan produktif. Suku bunga nominal bulanan yg ditetapkan dengan suku bunga flat 1,5 persen atas saldo kredit semula; ini sama dengan sekitar 32 persen suku bunga efektif tahunan untuk kredit satu tahun dengan 12 angsuran bulanan, kalau semua pembayaran dilakukan tepat pada waktunya. 

Pada akhir tahun 1996, sistem unit desa menghimpun simpanan $3 milyar dalam 16,1 juta rekening simpanan. Suatu laporan tahun 1996 oleh Departemen Evaluasi Operasional (Operations Evaluation Department) World Bank menyebutkan alasan keberhasilan BRI unit desa sebagai berikut: 

"Program berhasil baik karena bank meminjamkan dengan harga pasar, menggunakan pendapatan untuk membiayai cara kerja mereka, mempertahankan biaya oprasional rendah dan merencanakan instrumen tabungan yg tepat untuk menarik minat penabung. Dengan menghimpun tabungan pedesaan, sistem unit desa tidak hanya disediakan dengan sumber dana yg kuat, namun juga menyimpan tabungan tabungan keuangan di daerah pedesaan, dengan demikian membantu tumbuhnya pembangunan daerah. Alasan lain keberhasilan meliputi: kesederhanaan pola kredit, yang memungkinkan bank menekan biaya; manajemen efektif di tingkat unit, didukung oleh pengawasan dan pemantauan yang ketat; serta pelatihan karyawan dan insentif kinerja yang tepat."
                                                   - World Bank News, 4 April 1996, hal.6

Badan Kredit Desa 

Disamping sistem perbankan mikro unit desanya sendiri, BRI melakukan pengawasan dan dalam beberapa kasus menyediakan kredit komersial untuk memanfaatkan organisasi kredit milik desa dari Jawa dan Madura (Badan Kredit Desa atau BKD). Pada akhir tahun 1998 ada 4.806 BKD yg beroperasi, yang melayani sekitar 800.000 nasabah. BKD dan BRI unit desa bersama-sama menyediakan sistem duang-tingkat, dengan BRI unit berkedudukan di tingkat kecamatan, melayani desa-desa sekitar, sedangkan BKD menjangkau lebih dalam ke desa-desa. 

Masing-masing BKD menyediakan kredit komersial kecil dalam desanya. Sebagian besar BKD buka kantor satu pagi dalam satu minggu; mereka dimodali tabungan, laba ditahan, dan kredit komersial dari BRI. Pinjaman dari BKD kepada para debitur desa adalah untuk jangka pendek, seringkali untuk tiga bulan; pembayaran biasanya diangsur tiap minggu. Tabungan wajib berkisar antara 8-10 persen dibawah kredit. Suku bunga efektif kredit, yang ditetapkan oleh berbagai pemerintah daerah, lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga yang dibebankan unit desa. 

Jangkauan dan Profitabilitas 

Suatu gabungan cakupan luas dan institusional yang mandiri telah membuat Indonesia sebagai pusat keuangan mikro yang berkelanjutan. Bahkan ditengah-tengah krisis keuangan negara paling buruk dalam 30 tahun, sistem unit desa BRI dan BKD terus kuat dan menguntungkan, seperti juga Bank Dagang Bali (suatu bank swasta). Semuanya menggunakan pendekatan sistem keuangan terhadap keuangan mikro, dan semuanya tetap menguntungkan sepanjang krisis. Semua lembaga ini sering menerima kunjungan dari ratusan delegasi yang mewakili pemerintah, bank sentral, bank umum, LSM penyedia kredit mikro, serta donor internasional dan yayasan dari seluruh dunia. Pengunjung mewakili banyak lembaga yg berada pada berbagai tahap pembelajaran mengenai pendekatan institusional komersial terhadap keuangan mikro dan penyesuaian pendekatan ini terhadap keadaan di negara mereka sendiri. Mereka telah mulai menyesuaikan pelajaran banyak lembaga yg sukses, untuk menemukan strategi yg saling melengkapi, untuk mengembangkan model, dan untuk tukar-menukar informasi lintas batas. Indonesia telah memainkan peran yg penting dalam proses ini. 

PARADIGMA LAMA: PENYEDIAAN SUBSIDI KREDIT 

Paradigma lama -yang berasal dari teori persediaan mendorong pembiayaan- dan program subsidi kredit luas yang berkembang dari teori ini, muncul sebagai tanggapan kondisi setelah Perang Dunia II. Pemerintah banyak negara berkembang baru meletakkan prioritas tinggi pada pembangunan ekonomi, dan terutama peningkatan pemeliharaan tanaman pangan. Donor asing mendapatkan mandat bagi investasi substansial di bidang pertanian negara berkembang. Dalam konteks ini, ahli teori persediaan-mendorong pembiayaan menegaskan bahwa sebagian besar petani akan membutuhkan modal lebih banyak dibandingkan dengan yang dapat mereka tabung dan bahwa mereka tidak dapat membayar kredit sepenuhnya yang perlu untuk masukan yang dibutuhkan untuk menanam varietas padi dan gandum hasil tinggi yg baru sebagai pertanda revolusi hijau tahun 1960an dan 1970an. Sebagai hasilnya program subsidi kredit pemerintah dan donor berkembang pesat di negara berkembang di seluruh dunia. 

PARADIGMA BARU: KEUANGAN MIKRO KOMERSIAL YANG BERKELANJUTAN 

Paradigma baru menekankan pada gagasan bahwa, dengan adanya kondisi memungkinkan dari makro ekonomi, politik, hukum pengaturan, dan demografi, maka lembaga keuangan dapat dikembangkan untuk menyediakan intermediasi keuangan bagi masyarakat miskin yang aktif secara ekonomi dan dapat menyediakan pelayanan di tingkat lokal secara menguntungkan, dapat dipertahankan, tanpa subsidi, dan dengan ruang lingkung yg luas.

0 comments:

Post a Comment

Silahkan beri komentar Anda di kolom dibawah ini, atau apabila Anda juga terhubung ke Facebook, bisa berkomentar pada kotak Komentar Facebook diatas...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More